Konsel, RedaksiSultra.Com- Menyiapkan generasi muda menghadapi masa depan tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Pemahaman tentang kesehatan, karakter, perencanaan kehidupan dan tantangan kependudukan juga menjadi bekal penting bagi remaja.
Hal inilah yang terus didorong Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kecamatan Ranomeeto melalui pembinaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) di SMAN 2 Konawe Selatan, Kamis (17/9/2026).
Pembinaan tersebut dirangkaikan dengan kegiatan penyuluhan kolaboratif yang melibatkan perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Sulawesi Tenggara, Fachri, bersama mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo.
Mengangkat tema “Gen Z dan Bonus Demografi, Kita Siap Jadi Generasi Produktif ?”, kegiatan tersebut mengajak para siswa melihat bonus demografi bukan sekadar peluang, tetapi juga tantangan yang membutuhkan kesiapan sumber daya manusia sejak sekarang.
Dalam penyuluhan, para siswa mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan melalui pendidikan, pengembangan keterampilan, menjaga kesehatan, membangun karakter, serta menjauhi berbagai perilaku berisiko yang dapat menghambat masa depan generasi muda.
Perwakilan BKKBN Sultra, Fachri, menekankan bahwa kualitas generasi muda akan menjadi salah satu faktor penting dalam memanfaatkan peluang bonus demografi.
“Bonus demografi harus dipersiapkan sejak sekarang. Gen Z perlu membekali diri dengan pendidikan, keterampilan, kesehatan dan karakter yang baik agar nantinya mampu menjadi generasi produktif dan berkontribusi dalam pembangunan.”
Sementara itu, Penyuluh KB Kecamatan Ranomeeto sekaligus Pembina PIK Remaja SMAN 2 Konawe Selatan, Novi Khairani, A.Md.Keb, mengatakan pembinaan PIK Remaja merupakan bagian dari upaya menghadirkan ruang edukasi yang dekat dengan kehidupan remaja.
“PIK Remaja menjadi wadah bagi siswa untuk memperoleh informasi yang benar, berdiskusi dan meningkatkan pemahaman tentang berbagai persoalan remaja. Kami ingin mereka memiliki bekal dalam mengambil keputusan yang positif serta mampu merencanakan masa depan dengan baik.”
Menurut Novi, keberadaan PIK Remaja di lingkungan sekolah memiliki peran strategis karena siswa dapat saling berbagi informasi dan membangun kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi generasi seusianya.
Ia juga menilai kolaborasi dengan BKKBN Sultra dan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Para siswa tidak hanya memperoleh informasi dari Penyuluh KB, tetapi juga mendapatkan perspektif kesehatan masyarakat yang relevan dengan kehidupan remaja.
Pembinaan PIK Remaja di SMAN 2 Konawe Selatan diharapkan dapat terus berjalan secara berkelanjutan. Penyuluh KB Ranomeeto mendorong agar PIK Remaja semakin aktif sebagai wadah informasi, konseling, edukasi dan pengembangan potensi siswa.
Melalui pembinaan tersebut, para pelajar diharapkan mampu menjadi generasi yang sehat, berpendidikan, terampil, berkarakter dan produktif sehingga memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan kependudukan di masa mendatang.
Laporan: Hartato










