Redaksi Sultra.Com – ‘’Dari kebun, koperasi, hilirisasi hingga branding: gagasan membangun ekosistem ekonomi kawasan kakao di Kolaka Timur’’
Bayangkan sebuah daerah memiliki puluhan ribu hektare lahan kakao. Di atas kertas, angka itu terlihat seperti kekayaan yang luar biasa yang oleh penulis menyebutnya sebagai sumber daya alam yang dapat di perbaharui. Tetapi pertanyaan yang lebih penting bukan berapa luas kebunnya.
Pertanyaannya adalah: seberapa besar nilai ekonomi yang bisa lahir dari kebun-kebun tersebut? Seberapa banyak ‘’asap yang mengepul’’ dari dapur rumah tangga kita sebagai tanda roda ekonomi keluarga terus beroperasi serta seberapa rimbun kebun dan lingkungan kita yang tetap terjaga.
Inilah pertanyaan yang menurut penulis perlu mulai kita bicarakan lebih serius di Kolaka Timur.
Data yang menjadi bahan perencanaan saat ini menunjukkan sekitar 47.725 hektare lahan sebagai hulu potensi pengembangan kakao di Kolaka Timur. Angka tersebut bukan sekadar angka luasan lahan. Jika dikelola dengan arah yang jelas, ia dapat menjadi salah satu fondasi untuk membangun mesin ekonomi kawasan.
Tetapi mesin ekonomi itu tidak akan bergerak hanya karena kita memiliki bahan bakar. Ia membutuhkan sistem.
Dalam pandangan penulis, petani harus terhubung dengan teknologi dan inovasi. Produksi harus terhubung dengan pasar. Koperasi harus terhubung dengan anggota sebagai prinsip koperasi ala bung Hatta. Rumah produksi harus terhubung dengan bahan baku. Produk harus terhubung dengan konsumen. Dan seluruhnya membutuhkan rantai ekosistem kebijakan ekonomi yang terintegrasi.
Di situlah gagasan tentang ekosistem ekonomi kawasan Kolaka Timur menjadi penting.
Jangan berhenti pada cerita tentang luas lahan
Selama ini kita sering berbicara tentang kakao dari sisi produksi. Berapa hektare, Berapa ton, dan Berapa harganya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu penting. Tetapi jika kita ingin kakao menjadi penggerak ekonomi daerah, pertanyaannya harus dinaikkan satu Okta menjadi:
Apa yang terjadi setelah kakao keluar dari kebun?
Jika biji kakao hanya berpindah tangan dari petani kepada pedagang dan kemudian keluar daerah, maka sebagian besar nilai tambah juga ikut pergi keluar, dan tentunya potensi Pendapatan Asli Daerah ikut bocor. Karena itu, membangun sentra kakao tidak cukup hanya dengan meningkatkan produktivitas kebun. Kita perlu memikirkan apa yang terjadi setelah panen. Fermentasi, Pengeringan, Sortasi, Penyimpanan, Pengolahan, Pengemasan, Branding dan Pemasaran. Semua mata rantai tersebut adalah bagian dari nilai ekonomi. Dan di situlah hilirisasi menjadi penting.
Kita tidak harus memiliki kebun kakao untuk menjual cokelat yang mendunia
Ada sebuah contoh yang menarik dari Dubai. Ketika orang berbicara tentang “cokelat Dubai”, yang terbayang adalah sebuah produk dan sebuah nama yang telah memiliki daya tarik di pasar. Padahal Dubai bukan daerah penghasil kakao seperti Kolaka Timur. Ini memberi kita satu pelajaran sederhana: nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh tempat bahan bakunya ditanam. Ada sistem pengolahan, kualitas, desain produk, Storytelling, rantai pasok. Dan yang sangat penting: ada branding.
Produk dapat memiliki identitas yang membuat orang mengenalnya bahkan sebelum mereka pernah melihat kebun tempat bahan bakunya berasal. Tentu saja Kolaka Timur tidak bisa begitu saja meniru Dubai.
Tetapi kita dapat pelajaran berharga dari semua itu bahwa : bahan baku saja tidaklah cukup. Kita membutuhkan ekosistem yang mampu mengubah komoditas menjadi produk dan identitas ekonomi. Kalau suatu hari orang berbicara tentang cokelat Koltim, lalu konsumen di luar daerah mengenal namanya, membicarakannya, mencarinya, dan membelinya, maka pada saat itulah sistem branding itu sedang bekerja.
Dari petani: titik pertama ekosistem muncul
Ekosistem ekonomi kakao harus dimulai dari petani. Bukan sekadar menjadikan petani sebagai pemasok bahan baku, tetapi sebagai bagian utama dari sistem usaha. Petani membutuhkan teknologi budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas. Mereka perlu memahami bagaimana menghasilkan kakao yang sesuai dengan spesifikasi pasar. Kemudian setelah panen, teknologi pascapanen menjadi sangat penting. Fermentasi dan pengeringan bukan lagi sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian dari strategi menghasilkan bahan baku berkualitas dengan label premium bens. Dengan demikian, pembangunan kakao tidak dimulai ketika biji masuk ke mesin pengolahan. Ia bisa dimulai dari kebun.
Koperasi harus menjadi jantung, bukan sekadar tempat berkumpul
Di antara petani dan pasar terdapat satu simpul yang menurut saya sangat penting yaitu koperasi. Koperasi dapat menjadi ruang untuk mengonsolidasikan anggota, bahan baku, modal, pengetahuan, produksi, hingga akses pasar. Tetapi koperasi tidak otomatis kuat hanya karena sudah berbadan hukum. Koperasi membutuhkan sistem manajemen, pembagian tugas, Standar Operasional Prosedur (SOP), pencatatan keuangan, desain bisnis, pasar, dan yang tidak kalah penting, membutuhkan anggota yang aktif. Karena itu penulis melihat anggota sebagai urat nadi koperasi, sementara kelembagaan koperasi menjadi salah satu jantung penggeraknya.
Jika jantungnya lemah, aliran ekonomi juga tidak akan berjalan baik. Inilah alasan mengapa pengembangan koperasi seharusnya tidak dilakukan secara parsial. Kita tidak cukup hanya memberikan pelatihan administrasi, kemudian selesai. Tidak cukup pula hanya memberikan mesin. Koperasi membutuhkan kurikulum pengembangan yang sistematis: mulai dari kelembagaan, SDM, produksi, tata kelola, keuangan, legalitas, hingga pemasaran.
Dari koperasi menuju rumah produksi
Bayangan penulis cukup sederhana. Petani menghasilkan kakao dengan standar yang semakin baik, koperasi mengagregasi bahan baku tersebut, Koperasi kemudian memiliki fasilitas pengolahan yang sesuai dengan skala dan kebutuhan kawasan. Dari sana lahir produk dengan nilai tambah. Misalnya nibs kakao, cocoa liquor, hingga chocolate bar. Pada tahap tertentu, produk dapat masuk ke pasar melalui mitra usaha atau offtaker.
Dengan pola seperti ini, rantai ekonomi tidak berhenti pada penjualan biji. Nilai tambah mulai tinggal lebih banyak di kawasan yang telah kita desain bersama dan ketika nilai tambah tumbuh, kesempatan kerja juga dapat ikut tumbuh, investasi meningkat serta ragam factor produksi dan pertumbuhan lainya yang akan bertumbuh dan Pelaku UMKM di sekitar kawasan juga dapat memperoleh peluang yang baik. Inilah yang penulis maksud dengan salah satu dari rangkaian penerapan ekosistem ekonomi kawasan. Bukan satu usaha besar yang berdiri sendirian, tetapi banyak aktivitas ekonomi yang saling terhubung.
Pemerintah tidak harus menjadi pelaku usaha
Lalu di mana pemerintah berada? Menurut hemat Penulis, pemerintah memiliki posisi yang sangat strategis, tetapi bukan berarti harus menjadi pelaku utama bisnis. Pemerintah dapat membangun lingkungan yang memungkinkan ekosistem tersebut tumbuh. Mulai dari pengembangan sumber daya manusia, infrastruktur, sarana produksi, akses pembiayaan, fasilitasi legalitas, penguatan kelembagaan, hingga membuka ruang kemitraan dengan dunia usaha.
Yang paling penting adalah memastikan berbagai intervensi tersebut memiliki arah dan tujuan yang sama. Jangan sampai satu program berbicara tentang produktivitas, program lain tentang mesin, program berikutnya tentang pemasaran, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri tanpa satu peta jalan. Kita membutuhkan blueprint pengembangan kawasan. Apa yang dibangun tahun pertama? Apa yang harus selesai tahun kedua? Koperasi mana yang menjadi simpul? Produk apa yang dikembangkan? Siapa pasarnya? Infrastruktur apa yang dibutuhkan? Bagaimana pembiayaannya? Dan indikator keberhasilannya apa? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab bersama.
Infrastruktur bukan hanya gedung dan mesin
Ketika berbicara tentang kawasan produksi kakao, kita sering langsung berpikir tentang bangunan dan mesin. Padahal ada dua jenis infrastruktur yang sama pentingnya. Pertama, infrastruktur fisik (Sentra produksi, gudang, fasilitas pascapanen, unit pengolahan, listrik, air, jalan dan sarana pendukung lainnya) Kedua, infrastruktur nonfisik (Sumber Daya Manusia, tata kelola, SOP-SOM, sistem data, pendampingan, standar kualitas, legalitas, branding, manajemen usaha dan akses pasar)
Keduanya harus berjalan bersama. Mesin yang mahal tidak akan banyak berarti jika tidak ada orang yang mampu mengelolanya. Gedung produksi juga tidak akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi jika bahan bakunya tidak tersedia dan produknya tidak memiliki pasar. Karena itu, pembangunan infrastruktur kawasan harus mengikuti desain bisnis, bukan sebaliknya.
Pemerintah Butuh Konsultan Pendamping yang Mampu Menerjemahkan Bahasan Kebijakan
Dalam pembangunan ekonomi daerah, ada satu hal yang sering luput: kebijakan sudah baik, program tersedia, anggaran ada, tetapi di lapangan tetap dibutuhkan orang atau tim ahli yang bisa mengubah semuanya menjadi kerja nyata.
Tenaga Ahli itulah yang menerjemahkan:
- kebutuhan petani menjadi program yang tepat sasaran,
- masalah kelembagaan koperasi menjadi rencana pengembangan,
- produk menjadi barang yang memenuhi standar pasar,
- branding menjadi identitas produk yang dikenali,
- program lintas sektor menjadi satu peta jalan (roadmap).
Karena itu, pengembangan kawasan kakao tidak cukup dengan pendampingan yang berhenti pada satu kegiatan. Dibutuhkan pendampingan terpadu, dengan pendamping yang melihat petani, koperasi, produksi, pasar, pembiayaan, branding, dan kebijakan sebagai satu rangkaian yang saling terhubung.
Ekonomi harus tumbuh bersama lingkungan, Budaya dan Manusia
Saya tidak ingin ekosistem kakao yang kita rancang hanya berbicara soal uang. Kawasan ekonomi yang baik harus memberi ruang bagi keberlanjutan lingkungan dan inklusi sosial. Dari sisi lingkungan, limbah pertanian bisa diarahkan menjadi bagian dari siklus pakan atau pupuk. Pengembangan kakao juga perlu dikaitkan dengan pengelolaan lahan yang baik dan bersih. Setiap unit pengolahan harus memperhatikan penggunaan air, energi, dan pengelolaan limbahnya.
Dari sisi sosial, perempuan dan pemuda harus mendapat ruang belajar, karya dan inovasi lebih. Kearifan lokal, mulai dari kebiasaan, budaya, hingga pengetahuan masyarakat setempat tentang pola pertanian dan peternakan yang bersih, juga akan berperan penting. Dengan begitu, hilirisasi tidak hanya menghasilkan cokelat. Ia juga membuka kesempatan kerja dan belajar, sehingga masyarakat bisa tumbuh dan berkembang bersama lingkungan dan sesamanya.
Pada akhirnya membangun kakao Koltim membutuhkan waktu, Kerjasama program yang saling terintegrasi, kebijakan politik ekonomi daerah dan sebagainya sehingga Daerah Kawasan yang kita kembangkan ini betul-betul bisa memberi manfaat lebih pada masyarakat, lingkungan dan budaya yang kita jaga secara bersama-sama, dan mimpi-mimpi membangun ekosistem ekonomi Kawasan dengan mengintegrasikan semua factor-faktor produksi melalui kelembagaan koperasi yang kuat adalah harapan besar untuk masa kini dan generasi yang akan datang.
Sebuah Catatan Pendampingan.








