Scroll untuk baca artikel
Konawe Selatan

Perempuan 22 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Perkebunan Roraya, Polisi Temukan Sejumlah Tanda Luka

9
×

Perempuan 22 Tahun Ditemukan Tak Bernyawa di Perkebunan Roraya, Polisi Temukan Sejumlah Tanda Luka

Sebarkan artikel ini

KONAWE SELATAN, RedaksiSultra.Com – Warga Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, digegerkan dengan penemuan jasad seorang perempuan berusia 22 tahun di area perkebunan warga, Rabu (16/9/2026).

Korban diketahui berinisial D.Y. (22), kelahiran Sinjai, 19 Maret 2004, dan berdomisili di Desa Sambahule, Kecamatan Baito, Konawe Selatan.

<img class="alignnone size-full wp-image-807" src="http://redaksisultra.com/wp-content/uploads/2026/07/ucapan-hari-id-adha.webp" alt="" width="928" height="1150" />
<img class="alignnone size-full wp-image-914" src="http://redaksisultra.com/wp-content/uploads/2026/09/hari-kejaksaan.webp" alt="" width="1200" height="1600" />

Jasad korban pertama kali ditemukan seorang warga berinisial S. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak Polsek Tinanggea.

Kapolsek Tinanggea IPTU Sucipto, S.H., M.H., CPM, bersama personel langsung mendatangi lokasi sekitar pukul 10.30 WITA.

Petugas kemudian mengamankan lokasi dan melakukan pemeriksaan awal TKP. Polisi juga mengumpulkan sejumlah barang bukti serta meminta keterangan dari para saksi.

Tak lama berselang, Tim Identifikasi/INAFIS Polres Konawe Selatan bersama Satreskrim dan tenaga medis Puskesmas Tinanggea diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ditemukan Sejumlah Tanda Luka

Sekitar pukul 12.45 WITA, Tim INAFIS Polres Konawe Selatan yang dipimpin IPDA Ridwan Saidi tiba di lokasi.

Tim kemudian melakukan pemeriksaan dan dokumentasi terhadap kondisi TKP serta jasad korban.

Sekitar pukul 13.15 WITA, pemeriksaan visum luar dilakukan oleh tim medis Puskesmas Tinanggea yang dipimpin dr. Iren Constantyadi, S.Ked., bersama Tim INAFIS.

Hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah tanda luka pada beberapa bagian tubuh korban.

Yang membuat kasus ini semakin menjadi perhatian, polisi juga menemukan kondisi mulut korban dibungkam menggunakan celana.

“Terdapat sejumlah tanda luka pada beberapa bagian tubuh korban. Selain itu, kondisi mulut korban ditemukan dalam keadaan dibungkam menggunakan celana,” ungkap Kasi Humas Polres Konawe Selatan, IPTU Komang Budayana, S.H.

Namun demikian, kepolisian belum menyimpulkan penyebab kematian korban maupun memastikan apakah terdapat unsur kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Polisi masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan forensik untuk memastikan penyebab kematian.

Korban Sempat Bekerja di Rumah Makan

Sebelum ditemukan meninggal dunia, korban diketahui bekerja di Rumah Makan Febhy.

Menurut keterangan pemilik rumah makan berinisial Y, korban mulai bekerja sejak awal Mei 2026.

Pada Agustus 2026, korban sempat berhenti bekerja selama sekitar 10 hari. Berdasarkan keterangan saksi, saat itu korban sering didatangi seorang laki-laki.

Korban kemudian kembali bekerja pada akhir Agustus 2026 karena masih memiliki cicilan telepon seluler.

Sehari sebelum ditemukan meninggal, Selasa (15/9/2026), korban masih berada di rumah makan.

Sekitar pukul 05.50 WITA, Y meninggalkan rumah makan untuk menuju rumah keluarganya yang sedang berduka. Sekitar pukul 11.00 WITA, Y kembali dan masih melihat korban berada di lokasi.

Kemudian sekitar pukul 16.00 WITA, Y kembali meninggalkan rumah makan.

Pada Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 04.30 WITA, Y kembali ke rumah makan dan mendapati korban sudah tidak berada di tempat.

Y kemudian menanyakan keberadaan korban kepada seorang saksi berinisial H yang berada di rumah makan. Namun, H mengaku tidak mengetahui keberadaan korban.

Dibawa ke RS Bhayangkara untuk Autopsi

Pihak keluarga telah menyetujui proses autopsi terhadap korban.

Setelah dilakukan pemeriksaan awal di Puskesmas Tinanggea, sekitar pukul 15.45 WITA korban dibawa oleh Tim INAFIS Polres Konawe Selatan bersama pihak Puskesmas Tinanggea menuju RS Bhayangkara Polda Sulawesi Tenggara.

Autopsi dilakukan untuk membantu mengungkap penyebab kematian korban serta mengetahui kondisi medis yang berkaitan dengan kematian tersebut.

Sementara itu, polisi masih melakukan pendalaman terhadap keterangan para saksi dan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian belum menyimpulkan motif kejadian maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas kematian korban.

Polisi mengimbau masyarakat tidak menyebarkan dugaan atau informasi yang belum terverifikasi mengenai pelaku maupun motif kejadian.

“Kepolisian akan menyampaikan perkembangan penanganan perkara tersebut setelah diperoleh hasil pemeriksaan dan informasi yang telah terverifikasi,” pungkas IPTU Komang Budayana.

Reporter:  Adi Jaya Saputra